Selasa, 01 Maret 2016

SOSIOLOGI Solidaritas Mekanisme Dan Organisme

Sosiologi hukum adalah Ilmu yang mempelajari hubungan timbal-balik antara myasarakat dengan hukum.
Menurut Emile Dhukheim solidaritas terbagi menjadi dua macam yaitu diantaranya :
 1. Solidaritas Mekanisme : Solidaritas yang diwujudkan dalam bentuk tindakan respresif     (pelakunya menderita ) pada msyarakat. Yang mempunyai sifat paguyuban maksudnya mempunyai hubungan komunikasi yang sangat erat atara permasyarakat.
2. Solidaritas Organisme : Sololidaritas yang diwujudkan dalam bentuk restetutif pada masyarakat, yang mempunyai sifat pakembayan (profesi yang berbeda-beda, heterogen, atau beragam ) tidak menghakimi sendiri. Seperti di dalam perkotaan contohnya di perumahan komplek.



Contoh Solidaritas Mekanisme :


Jimat Kalung Tak Mempan, Hajar Sampai Babak Belur

            [Saptu,16 Maret 2015 18:30]
            Durenan – Seorang laki-laki dan perempuan asal Durenan terkena batunya. Meski berhasil berhubungan imtim, kedua pelaku ini berhasil ditangkap dan di giring. Warga beramai-ramai menghajarnya, meskipun membawa jimat berupa kalung yang laki-laki ini tetap saja babak belur. Dua pelaku masing-masing Sumadi alias Mad (48) warga Dusun Dungbajul, Desa Ngadisuko, kecamatan Durenan dan Nurul Khotimah (31) warga Dusun Dungbajul, Desa Ngadisuko Kecamatan Durenan.
Sebelumnya dua orang ini sudah mempunyai keluarga sendiri-sendiri yang Mad sudah puya 1 anak sedangkan yang Nurul sudah mempunyai 2 anak, dan juga dan juga rumahnya tidak sangat jauh. Kejadiannya Malam minggu, mengetahui suami dari Nurul pergi untuk bekerja sebagai buruh guluk di sebuah gudang beras yang ada di depan rumahnya itu. Yang pemilik gudang itu bernama bapak Suri (54). Si Mad ditelfon oleh nurul untuk datang ke rumahnya, langsung saja Mad pun sigap datang kerumah Nurul dengan pakaian yang sangat keren dengan cara mengendap-ngendap lewat belakang rumah. Meliahat keadaan yang sepi Mad langsung masuk kedalam rumah ternyata anak-anak Nurul semuanya sudah pada tidur semua dan langsung saja Nurul mengajak Mad masuk kekamarnya dan melakukan selayaknya hubungan suami istri.
Sementara itu Suami Nurul yang bernama Majid (47) karena kecapek an ia berniat untuk pulang terlebih dahulu untuk beristirahat dan mengambil minum sebentar, disaat dia masuk rumah dan langsung menuju ke dapur ia mendengar suara-suara aneh yang berasal dari kamar tidurnya. Akhirnya diapun bergegas pergi ke kamar untuk melihat suara apa itu karena dia merasa penasaran, sesampai di depan pintu kamarnya itu dia mengintip melihat istrinya sendiri sedang melakukan hubungan intim dengan orang lain atau bahasa populernya perselingkuhan secara spontan melihat kejadian itu Majid langsung mendobrak pintu kamarnya dan langsung memukul Mad, tapi saying yang seharusnya dipukul Mad malah terkena wajah Nurul sehingga wajah Nurul menjadi membengkak hitam (gosong). Karena ketauan Mad pun sempat kabur namun Majid berteriak-teriak maling sehingga akhirnya tertangkap pula dan di pukuli massa hingga babak belur. Keduanya sudah diamankan di rumah RT “ ujar ketua RT Desa Ngadisuko.
Sumadi menjelaskan bahwa, dalam pemeriksaan diketahui bahwa sebenarnya mereka berdua melakukan itu sudah lama bahkan setiap kali rumah kosong atau ditempat luar seperti di hotel. Bahkan Nurul itu setiap hari diberi uang untuk membeli pulsa agar bisa chatingan dengan Mad. Selain menangkap dua pelaku perselingkuan itu polisi juga menyita sejumlah barang bukti yakni seperti : baju, kondom, hp, serta kalung yang terbuat dari batu akik sebagai jimat. Dan setelah itu kedua pelaku dibawa polisi untuk di adili lebih lanjut.

Contoh Solidaritas Organisme :



Rumah di Komplek kota Trenggalek disatroni pencuri, Rp 4 M raip


Trenggalek pada 10 Februari lalu. di Daerah kota Trenggalek di perumahan atau bisa disebut dengan Komplek. Dalam aksinya, keempat pelaku yakni Puryadi alias Demit, Winarto, Puji, Priyanto, Napi membawa kabur uang senilai Rp 4 miliar. Kepala Unit 1 Subdit Kejahatan dan Kekerasan Polres Trenggalek Ahmad Gunardi, mengatakan, peristiwa itu terjadi November 2015. Ada sebuah rumah yang terkenal akan kekayaanya rumah itu milik Bapak mahsun, dan pada saat itu pasnya rumah tersebut sudah kosong karena semua orang pada pergi dan kerja. karena mengetahui tersebut Masing-masing tersangka sudah membagi perannya. "Puji membagi tugas, dia menunggu di mobil, Napi merusak pintu, Pri mengamankan penghuni rumah apabila bangun dan yang lain mengikuti. Napi dan Pri (diduga oknum trenggalek), kata Gunardi, sabtu (13/2).
Gunardi menjelaskan, para tersangka masuk ke dalam rumah yang menjadi sasaran itu dengan melompat pagar, kemudian merusak garasi mobil. "Mereka langsung naik tangga belakang ke lantai dua, merusak pintu kemudian masuk ke dalam ruangan. Di sana mereka menemukan kardus coklat diikat lakban tergeletak di atas lantai depan kamar mandi. Oleh Napi, kardus tersebut dicongkel dengan obeng. Di dalam kardus itu ada tumpukan uang pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50.000. Diperkirakan senilai Rp 4.000.000.000 miliar," ucap Gunardi.
Uang curian tersebut, kata dia, dibawa uang tersebut ke tengah-tengah kota atau disebut juga dengan alon-alon. "Uang tersebut dibagikan oleh Pri, masing-masing mendapatkan sebesar Rp 730 juta. Tetapi Puji mendapat Rp 760 juta karena dia yang memberikan info lokasi TKP. Hasil curian tersebut ada yang digunakan Winarto dan Demit untuk membangun rumah di Ngetal Kami masih kejar pelaku Mus grobogan,"katanya. Dan juga polisi mengamankan barang bukti seperti pisau, linggis, obeng, dan kardus. Atas perbuatan yang dilakukan tersangka, dikenakan Pasal 363 KUHP terkait tindak pidana pencurian dengan pemberatan dengan ancaman di atas lima tahun penjara.
Setelah para pencuri tersebut tertangkap dan keadaan pun aman kembali dan yang korban akan  mendapatkan ganti rugi  dari pihak pelaku tersebut.

  Analisis
Dari contoh yang pertama bisa saya analisis bahwa solidaritas yang dimiliki di desa durenan tersebut termasuk solidaritas Mekanisme karena pada saat terjadi peristiwa perselingkuan diatas tetangga atau penduduk yang lain memiliki perasaan yang sama dengan yang menjadi korban. solidaritas ini sangat bertunjuk pada kekerasan karena ada saling memiliki antar sesama, dan juga biasanya di temukan di daerah  paguyuban atau di desa-desa.
Dari contoh yang kedua bisa saya analisis bahwa solidaritas yang dimiliki di daerah perkotaan Trenggalek termasuk Solidaritas Organisme karena apa ? karena pada saat terjadinya peristiwa pencurian yang berada di samping rumah korban tersebut mengetahui kalo sedang ada pencuri hanya menelfon polisi atau melaporkannya, tetapi tidak menggrebek pencuri tersebut. dan setelah polisi dan pencuri tertangkap atau keadaan sudah aman orang orang disekiar kembali melakukan aktivitas seperti biasa. pada Solidaritas ini tidak menggunakan kekerasan dan biasanya di temukan di daerah Pakembayan atau di daerah komplek komplek perkotaan.

Sabtu, 28 Maret 2015

MAKALAH MATERIALISME

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pembahasan makalah ini untuk mengetahui apa itu materialisme, materialisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari benda (materi), materialisme merupakan salah satu aliran filsafat yang memandang bahwa benda primer sedangkan ide ditempatkan di sekundernya sebab materi ada terlebih dahulu baru ada ide.
Apa yang kami suguhkan dalam makalah ini jauh dari kesempurnaan. Selain itu, masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini.
Semoga apa yang kami sajikan ini menambah pengetahuan mengenai ilmu hadis. Saran dan kritik dari semua sangat kami harapkan untuk memperbaiki makalah ini ke depannya.
B.     Rumusan Masalah
a)      Apa yang dimaksud materialisme ?
b)     Bagaimana sejarah perkembangan materialisme ?
c)      Apa saja aliran-aliran dalam materialisme ?
d)     Apa saja ciri-ciri dari materialisme ?
e)      Bagaimana pandangan agama terhadap materialisme ?
f)       Apa saja dampak-dampak dari materialisme ?
g)      Bagaimana usaha menhindari dan mengatasi materialisme ?
C.    Tujuan
a)      Untuk mengaetau pengertian materialisme.
b)     Untuk mengetahui sejarah perkembangan materialisme.
c)      Untuk mengetahui aliran-aliran materialisme.
d)     Untuk mengetahui ciri-ciri materialisme.
e)      Untuk mengetahui pandangan agama terhadap materialisme.
f)       Untuk mengetahui dampak-dampak dari materialisme.
g)      Untuk mengetahui usaha menghindari dan mengatasi materialisme

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Materialisme
Materialisme adalah paham filsafat yang meyakini bahwa esensi kenyataan, termasuk esensi manusia bersifat material atau fisik, hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Ciri utamanya adalah menempati ruang dan waktu, memiliki keluasan (res extensa), dan bersifat objektif, sehingga bias diukur, dikuantifikasi (dihitung), dan diobservasi. Aalam sipiritual atau jiwa tidak menempati ruang dan tidak bias disebut sebagai esensi kenyataan, sehingga ditolak keberadaannya.
Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya subtansi. Sebagai teori, materialisme termasuk paham ontoligi monistik. Akan tetapi, materialisme berbeda dengan teoriontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tentang tunggal tentang realitas, materialism berseberangan dengan idealisme. Para materialis tidak mengakui entitas-entitas nonmaterial seperti roh, hantu, setan dan malaikat. Tidak ada Allah atau dunia adikodrati. Realitas satu-satunya adalah materi yang bersifat abadi dan segala sesuatu merupakan manifestasi dari aktivitas materi. Tidak ada penggerak pertama atau sebab pertama. Tidak ada kehidupan, tidak ada pikiran yang kekal. Semua gejala berubah, akhirnya melampaui eksistensi, yang kembali lagi ke dasar material primordial, abadi, dalam suatu peralihan wujud yang abadi dari materi.
Para materialis percaya bahwa tidak ada kekuatan apa pun yang bersifat spiritual di balik gejala atau peristiwa material itu. Kalau ada gejala atau peristiwa yang masih belum diketahui, maka hal itu bukan berarti kekuatan yang bersifat spiritual di belakang peristiwa tersebut, melainkan karena pengetahuan dan akal kita saja yang belum dapat memahaminya.[1]


B.     Sejarah Perkembangan Materialisme
Filsuf yang pertama kali memperkenalkan paham ini adalah epikuros. Ia merupakn salah satu filsuf terkemuka pada masa filsafat kuno. Selain Epikuros, filsuf lain yang juga turut mengembangankan aliran filsafat ini adalah Demokritos dan Lucretius Carus. Pendapat mereka tentang Materialisme, dapat kita samakan dengan materialism yang berkembang di prancis pada masa pencerahan. Dua karangan karya La Mettrie yang cukup terkenal mewakili pham itu adalah L’homme machine (manusia mesin) dan  L’homme plante (manusia tumbuhan). Dalam waktu yang sama, di tempat lain muncul seorang Baron von Holbach yang mengemukakan suatu materialism atiesme. Materialisme etiesme serupa dalam bentuk dan substansinya, yang tidak mengakui adanya tuhan secara mutlak. Jiwa sebetulnya sama dengan fungsi-fungsi otak.
Benih-benih materialism sudah muncul sejak zaman Yunani kuno. Sebelum muncul pertnyaan-pertanyaan filsafat idealistic (yang menonjol sejak plato), filsafat Yunani berangkat dari filsafat materialisme yang mengambil bentuk pada upaya untuk  menyelidik tentang alam sebagai materi. Bahkan mayoritas filsuf percaya bahwa tidak mungkin ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan. Materi alam dipelajari secara habis-habisan, sehingga menghasilkan tesis filsafat tentang apa sebenarnya substansi menyusun alam kehidupan ini.
Pada abad pertama Masehi, paham materialism tidak mendapat tanggapan yang serius, bahkan pada abad pertengahan, orang menganggap asing terhadap paham ini. Baru pada zaman pencerahan (Aufkalrung), materialisme mendapat tanggapan dan penganut yang penting di Eropa Barat.
Materialisme berpenderian bahwa pada hakikatnya sesuatu itu adalah bahan belaka. Pandangan ini Berjaya pada abad ke-19.[2] Materialisme jelas tidak akan bias hilang dan mati karena hidup ini sangat nyata, dimana manusia terus saja mengembangkan diri dari ranah material. Zaman kegelapan yang didominasi dengan agama yang menggelapkan kesadaraan jelas tak dapat membendung perkembangan material, yaitu teknologi yang merupakan alat bantu manusia untuk mengatasi kesulitan material dan membantu manusia memahami alam. Misalnya, dengan teleskop dapat diketahui susunan jagat raya, dengan transportasi dan komunikasi pertukaran pengetahuan semakin cepat. Idialisme yang subjektif jelas tidak dapat dipertahankan.[3]
Pada abad 19, muncul filsuf-filsuf materialisme asal jerman seperti Feuerbach, Moleschott, Buchner, dan Haeckel. Merekalah yang kemudian meneruskan keberadaan materialisme. Materialisme dan Empirisme adalah perangsang munculnya IPTEK karena berpkir pada kegiatan melakukan eksperimen-eksperimen ilmiyah yang memicu perkembangan ilmu dan teknologi.
Filsafat materialisme beranggapan bahwa hubungan adalah hubungan material yang saling mempengaruhi. Karenanya, memahami hubungan harus menggunakan landasan berfikir yang materialis. Berfikir materialis berarti percaya pada hukum-hukum materi, yaitu sebagai berikut:
·      Hukum I: “Materi itu ada, nyata, dan konkret”.
Materi itu ada dan nyata dalam hidup kita. Kita bisa mengenali materi melalui indra kita. Jadi, bukan karena tak tertangkap indra kita, lantas kita mengatakan bahwa sesuatu itu tidak ada.
·      Hukum II:”Materi itu terdiri dari materi-materi yang lebih kecil dan saaling berhubungan (dialektis)”.
Jadi, dialektika adalah hukum keberadaan materi itu sendiri. Materi-materi kecil menyatu dan menyusun satu kesatuan yang kemudian disebut sebagai materi lainya yang secara kualitas lain. Karenanya namanya juga lain.
·      Hukum III:”Materi mengalami kontradiksi”.
Karena materi terdiri  dari materi-materi yang lebih kecil  antara satu materi dengan materi lainnya mengalami kontradiksi, atau saling bertentangan. Jika taka da kontras, tak akan ada bentuk yang berbeda-beda. Jika tidak ada kontradiksi, tak ada kualitas yang berbeda,kualitas baru, atau kualitas yang menunjukkan adanya perubahan susunan materi yang baru.
·      Hukum IV:”Materi selalu berubah dan akan selalu berubah”.
Perubahan dimulai dengan kontradiksi atau akibat pengaruh antara materi=materi yang menyusunnya maupun karena intervasi dari luar. Taka da yang lebih abadi dari pada perubahan itu sendiri.[4]
C.    Aliran-aliran dalam Materialisme
1.               Materialisme filsafat
Materialisme filsafat adalah materialisme yang menerangkan terjadinya alam semesta tanpa mengacu pada kekuasaan Tuhan yang melampaui alam benda.[5]
2.               Materialisme Mekanik
Materialisme Mekanik adalah aliran filsafat yang pandangannya materialis sedangkan metodenya mekanis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan gerak dan berubah, geraknya itu adalah gerakan yang mekanis artinya gerak yang tetap selamanya atau gerak yang berulang-ulang (endless loop) seperti mesin yang tanpa perkembangan atau peningkatan secara kualitatif.
3.               Materialisme Metafisik
Materialisme Metafisik adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa materi itu selau dalam keadaan diam, tetap atau statis selamanya seandainya materi itu berubah maka perubahan tersebut terjadi karena factor luar atau kekuatan dari luar. Selanjutnya materi itu dalam keadaan terpisah-pisah atau tidak mempunyai hubungan antara satu dengan yang lainya.
4.               Materialisme dialektis
Materialisme dialektis adalah aliran filsafat yang bersandar pada matter (benda) dan metodenya dialektis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu mempunyai keterhubungan satu dengan lainnya, saling mempengaruhi, dan saling bergantung satu dengan lainnya. Gerak materi itu adalah gerakan yang dialektis yaitu pergerakan atau perubahan menuju bentuk yang lebih tinggi atau lebih maju seperti spiral.[6]
5.               Materialisme antropologis
Inti materialisme antropologis adalah menyangkal adanya jiwa atau rohani, segala sesuatunya dikembalikan menurut terjadinya  proses biokimiawi saja.
6.                Materialisme historis
Berpendapat bahwa seluruh /sebagian besar tindakan manusia serta perubahan cultural ditentukan oleh faktor ekonomi.
7.                Materialisme praktis
Tolak ukur materialisme ini adalah materi atau harta benda atau kenikmatan jasmani sedangkan bersifat rohani disangkal realitasnya.
D.    Ciri-ciri Materialisme
a)            Diskriminatif adalah sikap seseorang yang membeda-bedakan atau
meninggirendahkan orang lain berdasarkan keadaan ekonomi, suku, dan biologis.
b)  Pelit atau kikir adalah sikap seseorang yang tidak mau rugi atau sulit untuk mengeluarkan ataumemberi sesuatu kepada sesamanya yang membutuhkan tanpa alasan yang jelas.
c)  Mudah merendahkan atau meremehkan segala yang bersifat keagamaan atau moralitas dalam ucapan dan tindakan nyata.
d)  Mengukur reladi atau pergaulan hanya dari sisi untung dan rugi, tanpa mau berkorban bagi orang lain.
E.     Pandangan Agama Terhadap Materialisme
Ø  Pandangan agama Kristen dan Katolik
Dalam pandangan kedua agama ini, sikap materialism tidaklah disetujui. Hidup ini sebaiknya diserahkan seluruhnya terhadap pelayanan pada Tuhan. Sering disebutkan bahwa mendewakan atau terlalu mendawakan materi tidaklah benar. Ini dapat dibuktikan dari beberapa kutipan ayat-ayat Alkitab, yaitu sbb:
 a. Amsal 15:16, tertulis “ Lebih baik sedikit barang dengan disertai rasa takut akan Tuhan, dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.”
b. Amsal 22:1, tertulis  “Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik daripada perak dan emas.”
 c. Pengkhotbah 5:9, tertulis “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan kekayaannya. Ini pun sia-sia.”
Ø  Pandangan agama Budha
Menurut agama Budha, kekayaan bisa dibagi menjadi 2 bagian, yaitu kekayaan materiyang dapat dicuri atau hilang sewaktu-waktu dan kekayaan batin yang tidak dapat dicuri oleh siapapun. Sangiti Sutta menyebutkan kekayaan yang tidak dapat dicuri adalah kekayaan ariya yang disebut satta ariya dhana atau tujuh kekayaan ariya, yaitu saddha (keyakinan), sila(kemoralan), hiri(malu untuk berbuat jahat), ottapa(takut melakukan perbuatan jahat), sutta (pengetahuan Dhamma/ajaran agama Budha), caga(kemurahan hati), dan pabba (kebijaksanaan).
F.     Dampak-Dampak Materialisme
Ø  Bahaya bagi bangsa dan negara:
Sikap materialistis, terlebih yang berdasarkan ideology materialism selalu bertolak belakang dengan agama, sikap materialisme bias membawa orang kepada atheisme. Sikap materialistis dapat membahayakan ideology negara Pancasila sila ke-1 (Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
Sikap materialistis bias membawa pertentangan kelas, pertentangan sosial, dan ras.
Sikap materialistis bias melahirkan banyak tindakan kejahatan, seperti korupsi, pemerasan terhadap orang yang tidak berdaya.
Ø  Bahaya bagi tiap pribadi
Sikap materialistis bias menjauhkan manusia dari Tuhan dan sesama sebab materi menjadi yang paling utama bagi orang tersebut. sesama bias diperalat dan diperas.
Sikap materialistis bias membuat orang tidak hidup bahadia karena ambisi yang semakin menigkat untuk materi.
G.    Usaha Menghindari dan Mengatasi Materialisme
§  Mengetahui pemahaman mengenai materialisme dan dampak negatifnya
§  Jauhkan rasa iri terhadap harta milik orang lain.
§  Bersyukur atas segala hal yang kita dapat dan kita miliki dalam hidup kita, meskipun apa yang kita dapatkan tersebut belum memenuhi keinginan/harapan kita.
§  Memperdalam ajaran agama untuk menguatkan iman dan hati nurani.
§  Menerima diri apa adanya.[7]

BAB III
KESIMPULAN

Dari beberapa penjelasan diatas dapat kami simpilkan bahwa, Untuk memenuhi kebutuhan
kita sehari-hari, tentu kita membutuhkan berbagai bentuk materi, seperti uang. Maka tidak ada salahnya kita mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Hanya saja kita tidak boleh menomor-satukan materi dalam hidup kita, sehingga kita melupakan/mengabaikan Tuhan, agama maupun hati nurani kita sendiri. Karena semakin banyaknya materi yang kita miliki tidak bisa menjamin semakin bahagianya kita dalam hidup. Akan lebih baik materi yang kita dapatkan, dikelola dengan bijaksana dengan memberikan kelebihan harta yang kita miliki untuk menolong orang lain yang masih kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


















DAFTAR PUSTAKA
S. Praja,Juhaya. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika,1997.Bandung: Yayasan PIARA
Suhartono,Suparlan. Sejarah Pemikir Filsafat Modern, 2005.Jogjakarta: AR_RUZZ
Soyomukti,Nurani. Penghantar Filsafat Umum,2011.Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA
http://montzella.blogspot.com/2013/03/makalah-materialisme. diakses 19/03/2015, 13.15
http://sibuba.wordpress.com/2012/01/03/filsafat-materialisme


[1] Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, (Bandung: Yayasan PIARA, 1997)
[2] Suparlan Suhartono, Sejarah Pemikir Filsafat Modern, (Jogjakarta: AR_RUZZ,2005), h. 62.
[3] Nurani Soyomukti,Penghantar Filsafat Umum, (Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA,2011),h. 285.
[4] Nurani Soyomukti,Penghantar Filsafat Umum, h. 289-292.
[5] http://montzella.blogspot.com/2013/03/makalah-materialisme. diakses 19/03/2015.
[7] http://montzella.blogspot.com/2013/03/makalah-materialisme. diakses 19/03/2015.