BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pembahasan makalah ini untuk mengetahui apa itu materialisme, materialisme adalah suatu aliran dalam
filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari benda (materi), materialisme merupakan salah satu aliran
filsafat yang memandang bahwa benda primer sedangkan ide ditempatkan di
sekundernya sebab materi ada terlebih dahulu baru ada ide.
Apa yang kami suguhkan dalam makalah ini jauh dari
kesempurnaan. Selain itu,
masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini.
Semoga apa yang kami sajikan ini menambah pengetahuan
mengenai ilmu hadis. Saran dan kritik dari semua sangat kami harapkan untuk
memperbaiki makalah ini ke depannya.
B.
Rumusan
Masalah
a)
Apa yang dimaksud
materialisme ?
b)
Bagaimana sejarah perkembangan materialisme ?
c)
Apa saja
aliran-aliran dalam materialisme ?
d)
Apa saja
ciri-ciri dari materialisme ?
e)
Bagaimana pandangan agama terhadap materialisme ?
f)
Apa saja dampak-dampak dari materialisme ?
g)
Bagaimana usaha menhindari dan mengatasi materialisme ?
C.
Tujuan
a)
Untuk mengaetau
pengertian materialisme.
b)
Untuk mengetahui sejarah perkembangan materialisme.
c)
Untuk mengetahui aliran-aliran materialisme.
d)
Untuk mengetahui ciri-ciri materialisme.
e)
Untuk mengetahui pandangan agama terhadap materialisme.
f)
Untuk mengetahui dampak-dampak dari materialisme.
g)
Untuk mengetahui usaha menghindari dan mengatasi materialisme
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Materialisme
Materialisme
adalah paham filsafat yang meyakini bahwa esensi kenyataan, termasuk esensi
manusia bersifat material atau fisik, hal yang dapat dikatakan benar-benar ada
adalah materi. Ciri utamanya adalah menempati ruang dan waktu, memiliki
keluasan (res extensa), dan bersifat objektif, sehingga bias diukur,
dikuantifikasi (dihitung), dan diobservasi. Aalam sipiritual atau jiwa tidak
menempati ruang dan tidak bias disebut sebagai esensi kenyataan, sehingga
ditolak keberadaannya.
Pada
dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil
interaksi material. Materi adalah satu-satunya subtansi. Sebagai teori,
materialisme termasuk paham ontoligi monistik. Akan tetapi, materialisme
berbeda dengan teoriontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme.
Dalam memberikan penjelasan tentang tunggal tentang realitas, materialism
berseberangan dengan idealisme. Para materialis tidak mengakui entitas-entitas
nonmaterial seperti roh, hantu, setan dan malaikat. Tidak ada Allah atau dunia
adikodrati. Realitas satu-satunya adalah materi yang bersifat abadi dan segala
sesuatu merupakan manifestasi dari aktivitas materi. Tidak ada penggerak
pertama atau sebab pertama. Tidak ada kehidupan, tidak ada pikiran yang kekal.
Semua gejala berubah, akhirnya melampaui eksistensi, yang kembali lagi ke dasar
material primordial, abadi, dalam suatu peralihan wujud yang abadi dari materi.
Para
materialis percaya bahwa tidak ada kekuatan apa pun yang bersifat spiritual di
balik gejala atau peristiwa material itu. Kalau ada gejala atau peristiwa yang
masih belum diketahui, maka hal itu bukan berarti kekuatan yang bersifat
spiritual di belakang peristiwa tersebut, melainkan karena pengetahuan dan akal
kita saja yang belum dapat memahaminya.[1]
B.
Sejarah Perkembangan
Materialisme
Filsuf
yang pertama kali memperkenalkan paham ini adalah epikuros. Ia merupakn salah
satu filsuf terkemuka pada masa filsafat kuno. Selain Epikuros, filsuf lain
yang juga turut mengembangankan aliran filsafat ini adalah Demokritos dan
Lucretius Carus. Pendapat mereka tentang Materialisme, dapat kita samakan
dengan materialism yang berkembang di prancis pada masa pencerahan. Dua
karangan karya La Mettrie yang cukup terkenal mewakili pham itu adalah L’homme
machine (manusia mesin) dan L’homme
plante (manusia tumbuhan). Dalam waktu yang sama, di tempat lain muncul seorang
Baron von Holbach yang mengemukakan suatu materialism atiesme. Materialisme
etiesme serupa dalam bentuk dan substansinya, yang tidak mengakui adanya tuhan
secara mutlak. Jiwa sebetulnya sama dengan fungsi-fungsi otak.
Benih-benih
materialism sudah muncul sejak zaman Yunani kuno. Sebelum muncul
pertnyaan-pertanyaan filsafat idealistic (yang menonjol sejak plato), filsafat
Yunani berangkat dari filsafat materialisme yang mengambil bentuk pada upaya
untuk menyelidik tentang alam sebagai
materi. Bahkan mayoritas filsuf percaya bahwa tidak mungkin ada sesuatu yang
muncul dari ketiadaan. Materi alam dipelajari secara habis-habisan, sehingga
menghasilkan tesis filsafat tentang apa sebenarnya substansi menyusun alam
kehidupan ini.
Pada abad pertama
Masehi, paham materialism tidak mendapat tanggapan yang serius, bahkan pada
abad pertengahan, orang menganggap asing terhadap paham ini. Baru pada zaman
pencerahan (Aufkalrung), materialisme mendapat tanggapan dan penganut
yang penting di Eropa Barat.
Materialisme berpenderian
bahwa pada hakikatnya sesuatu itu adalah bahan belaka. Pandangan ini Berjaya
pada abad ke-19.[2]
Materialisme jelas tidak akan bias hilang dan mati karena hidup ini sangat
nyata, dimana manusia terus saja mengembangkan diri dari ranah material. Zaman
kegelapan yang didominasi dengan agama yang menggelapkan kesadaraan jelas tak
dapat membendung perkembangan material, yaitu teknologi yang merupakan alat
bantu manusia untuk mengatasi kesulitan material dan membantu manusia memahami
alam. Misalnya, dengan teleskop dapat diketahui susunan jagat raya, dengan
transportasi dan komunikasi pertukaran pengetahuan semakin cepat. Idialisme
yang subjektif jelas tidak dapat dipertahankan.[3]
Pada abad 19, muncul
filsuf-filsuf materialisme asal jerman seperti Feuerbach, Moleschott, Buchner,
dan Haeckel. Merekalah yang kemudian meneruskan keberadaan materialisme.
Materialisme dan Empirisme adalah perangsang munculnya IPTEK karena berpkir
pada kegiatan melakukan eksperimen-eksperimen ilmiyah yang memicu perkembangan
ilmu dan teknologi.
Filsafat materialisme
beranggapan bahwa hubungan adalah hubungan material yang saling mempengaruhi.
Karenanya, memahami hubungan harus menggunakan landasan berfikir yang
materialis. Berfikir materialis berarti percaya pada hukum-hukum materi, yaitu
sebagai berikut:
·
Hukum I: “Materi itu
ada, nyata, dan konkret”.
Materi itu ada dan nyata dalam hidup
kita. Kita bisa mengenali materi melalui indra kita. Jadi, bukan karena tak
tertangkap indra kita, lantas kita mengatakan bahwa sesuatu itu tidak ada.
·
Hukum II:”Materi itu
terdiri dari materi-materi yang lebih kecil dan saaling berhubungan
(dialektis)”.
Jadi, dialektika adalah hukum keberadaan
materi itu sendiri. Materi-materi kecil menyatu dan menyusun satu kesatuan yang
kemudian disebut sebagai materi lainya yang secara kualitas lain. Karenanya
namanya juga lain.
·
Hukum III:”Materi
mengalami kontradiksi”.
Karena materi terdiri dari materi-materi yang lebih kecil antara satu materi dengan materi lainnya
mengalami kontradiksi, atau saling bertentangan. Jika taka da kontras, tak akan
ada bentuk yang berbeda-beda. Jika tidak ada kontradiksi, tak ada kualitas yang
berbeda,kualitas baru, atau kualitas yang menunjukkan adanya perubahan susunan
materi yang baru.
·
Hukum IV:”Materi selalu
berubah dan akan selalu berubah”.
Perubahan dimulai dengan kontradiksi
atau akibat pengaruh antara materi=materi yang menyusunnya maupun karena
intervasi dari luar. Taka da yang lebih abadi dari pada perubahan itu sendiri.[4]
C.
Aliran-aliran dalam
Materialisme
1.
Materialisme filsafat
Materialisme
filsafat adalah materialisme yang menerangkan terjadinya alam semesta tanpa
mengacu pada kekuasaan Tuhan yang melampaui alam benda.[5]
2.
Materialisme Mekanik
Materialisme
Mekanik adalah aliran filsafat yang pandangannya materialis sedangkan metodenya
mekanis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan gerak dan
berubah, geraknya itu adalah gerakan yang mekanis artinya gerak yang tetap
selamanya atau gerak yang berulang-ulang (endless loop) seperti mesin
yang tanpa perkembangan atau peningkatan secara kualitatif.
3.
Materialisme Metafisik
Materialisme
Metafisik adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa materi itu selau dalam
keadaan diam, tetap atau statis selamanya seandainya materi itu berubah maka
perubahan tersebut terjadi karena factor luar atau kekuatan dari luar.
Selanjutnya materi itu dalam keadaan terpisah-pisah atau tidak mempunyai
hubungan antara satu dengan yang lainya.
4.
Materialisme dialektis
Materialisme
dialektis adalah aliran filsafat yang bersandar pada matter (benda) dan
metodenya dialektis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu mempunyai
keterhubungan satu dengan lainnya, saling mempengaruhi, dan saling bergantung
satu dengan lainnya. Gerak materi itu adalah gerakan yang dialektis yaitu
pergerakan atau perubahan menuju bentuk yang lebih tinggi atau lebih maju seperti
spiral.[6]
5.
Materialisme antropologis
Inti materialisme antropologis
adalah menyangkal adanya jiwa atau rohani, segala sesuatunya dikembalikan
menurut terjadinya proses biokimiawi
saja.
6.
Materialisme historis
Berpendapat bahwa seluruh /sebagian
besar tindakan manusia serta perubahan cultural ditentukan oleh faktor ekonomi.
7.
Materialisme praktis
Tolak ukur materialisme ini adalah
materi atau harta benda atau kenikmatan jasmani sedangkan bersifat rohani disangkal
realitasnya.
D.
Ciri-ciri Materialisme
a)
Diskriminatif adalah sikap
seseorang yang membeda-bedakan atau
meninggirendahkan orang lain berdasarkan
keadaan ekonomi, suku, dan biologis.
b)
Pelit atau kikir adalah sikap seseorang yang tidak mau rugi atau sulit
untuk mengeluarkan ataumemberi sesuatu kepada sesamanya yang membutuhkan tanpa
alasan yang jelas.
c) Mudah merendahkan atau meremehkan segala yang bersifat
keagamaan atau moralitas dalam ucapan dan tindakan nyata.
d) Mengukur reladi atau pergaulan hanya dari sisi
untung dan rugi, tanpa mau berkorban bagi orang lain.
E.
Pandangan Agama Terhadap
Materialisme
Ø Pandangan
agama Kristen dan Katolik
Dalam pandangan kedua agama ini, sikap materialism tidaklah
disetujui. Hidup ini sebaiknya diserahkan seluruhnya terhadap pelayanan pada
Tuhan. Sering disebutkan bahwa mendewakan atau terlalu mendawakan materi
tidaklah benar. Ini dapat dibuktikan dari beberapa kutipan ayat-ayat Alkitab,
yaitu sbb:
a. Amsal 15:16, tertulis “ Lebih
baik sedikit barang dengan disertai rasa takut akan Tuhan, dari pada banyak harta
dengan disertai kecemasan.”
b. Amsal 22:1, tertulis “Nama
baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik daripada
perak dan emas.”
c. Pengkhotbah 5:9, tertulis
“Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan
tidak akan puas dengan kekayaannya. Ini pun sia-sia.”
Ø Pandangan
agama Budha
Menurut agama Budha, kekayaan bisa dibagi menjadi 2 bagian, yaitu
kekayaan materiyang dapat dicuri atau hilang sewaktu-waktu dan kekayaan batin
yang tidak dapat dicuri oleh siapapun. Sangiti Sutta menyebutkan kekayaan yang tidak
dapat dicuri adalah kekayaan ariya yang disebut satta ariya dhana atau tujuh kekayaan
ariya, yaitu saddha (keyakinan), sila(kemoralan), hiri(malu untuk berbuat jahat),
ottapa(takut melakukan perbuatan jahat), sutta (pengetahuan Dhamma/ajaran agama
Budha), caga(kemurahan hati), dan pabba (kebijaksanaan).
F.
Dampak-Dampak Materialisme
Ø Bahaya bagi
bangsa dan negara:
Sikap materialistis, terlebih yang
berdasarkan ideology materialism selalu bertolak belakang dengan agama, sikap materialisme
bias membawa orang kepada atheisme. Sikap materialistis dapat membahayakan ideology
negara Pancasila sila ke-1 (Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
Sikap materialistis bias membawa
pertentangan kelas, pertentangan sosial, dan ras.
Sikap materialistis bias melahirkan
banyak tindakan kejahatan, seperti korupsi, pemerasan terhadap orang yang tidak
berdaya.
Ø Bahaya bagi
tiap pribadi
Sikap materialistis bias menjauhkan
manusia dari Tuhan dan sesama sebab materi menjadi yang paling utama bagi orang
tersebut. sesama bias diperalat dan diperas.
Sikap materialistis bias membuat
orang tidak hidup bahadia karena ambisi yang semakin menigkat untuk materi.
G.
Usaha Menghindari dan Mengatasi Materialisme
§ Mengetahui
pemahaman mengenai materialisme dan dampak negatifnya
§ Jauhkan rasa
iri terhadap harta milik orang lain.
§ Bersyukur atas
segala hal yang kita dapat dan kita miliki dalam hidup kita, meskipun apa yang
kita dapatkan tersebut belum memenuhi keinginan/harapan kita.
§ Memperdalam
ajaran agama untuk menguatkan iman dan hati nurani.
§ Menerima diri
apa adanya.[7]
BAB III
KESIMPULAN
Dari beberapa penjelasan diatas
dapat kami simpilkan bahwa, Untuk memenuhi kebutuhan
kita sehari-hari, tentu kita membutuhkan berbagai bentuk materi, seperti
uang. Maka tidak ada salahnya kita mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya.
Hanya saja kita tidak boleh menomor-satukan materi dalam hidup kita, sehingga
kita melupakan/mengabaikan Tuhan, agama maupun hati nurani kita sendiri. Karena
semakin banyaknya materi yang kita miliki tidak bisa menjamin semakin
bahagianya kita dalam hidup. Akan lebih baik materi yang kita dapatkan,
dikelola dengan bijaksana dengan memberikan kelebihan harta yang kita miliki
untuk menolong orang lain yang masih kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya.
DAFTAR PUSTAKA
S. Praja,Juhaya. Aliran-Aliran
Filsafat dan Etika,1997.Bandung: Yayasan PIARA
Suhartono,Suparlan.
Sejarah Pemikir Filsafat Modern, 2005.Jogjakarta: AR_RUZZ
Soyomukti,Nurani. Penghantar
Filsafat Umum,2011.Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA
http://montzella.blogspot.com/2013/03/makalah-materialisme.
diakses 19/03/2015, 13.15
http://sibuba.wordpress.com/2012/01/03/filsafat-materialisme
[1] Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, (Bandung:
Yayasan PIARA, 1997)
[2] Suparlan Suhartono, Sejarah Pemikir Filsafat Modern, (Jogjakarta:
AR_RUZZ,2005), h. 62.
[3] Nurani Soyomukti,Penghantar Filsafat Umum, (Jogjakarta:
AR-RUZZ MEDIA,2011),h. 285.
[4] Nurani Soyomukti,Penghantar Filsafat Umum, h. 289-292.
[5] http://montzella.blogspot.com/2013/03/makalah-materialisme. diakses
19/03/2015.
[6] http://sibuba.wodpress.com/2012/01/03/filsafat-materialisme.
diakses 18/03/2015.
hore aku sing pertama komen
BalasHapushahaha...
Hapussiiipp wes
BalasHapusmatur suwun..
Hapusora faham blas
BalasHapussantay dak usah grogi
Hapussaya sudah membaca
BalasHapusaku ae urung..
Hapusokey boy
BalasHapusaku yowesss....
BalasHapusMohon maaf pada yg bikin bloger ini. Sya mohon izin copy dikit pengertian serta sejarahnya materialisme untuk tugas kulya sya
BalasHapusMohon maaf pada yg bikin bloger ini. Sya mohon izin copy dikit pengertian serta sejarahnya materialisme untuk tugas kulya sya
BalasHapusIzin copy pengertian, sejarah dan fotnot 1dan2 serta daftar fustakanya terimakasih sya kepada bloger ini
BalasHapusIzin copy pengertian, sejarah dan fotnot 1dan2 serta daftar fustakanya terimakasih sya kepada bloger ini
BalasHapus